POST PARTUM PRIMER DAN SEKUNDER
A. Definisi
Perdarahan post partum adalah
perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. (Prof.
dr. Ida Bagus Gde Manuaba : 1996)
Menurut waktu terjadinya dibagi atas
dua bagian :
- Perdarahan post partum primer (
early post partum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak
lahir. Penyebab utama post partum primer adalah atonia uteri, retensio
plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam
pertama. (Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba : 1996).
- Perdarahan post partum skunder
(late post partum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara
hari ke 5 sampai 15 post partum. Penyebab utama perdarahan post partum
sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membran. (Prof.
dr. Ida Bagus Gde Manuaba : 1996).
B. Etiologi
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH : 1998)
- Atonia Uteri
Faktor penyebab terjadinya atonia
uteri adalah
a.
Umur :
Umur yang terlalu muda atau tua
b.
Paritas : Sering
dijumpai para multipara dan grandemultipara
c.
Partus lama dan partus terlantar
d.
Obstein operatif dan narkosa
e.
Uterus terlalu tegang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion, atau janin
besar
f.
Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus cauvelair pada solusio
plasenta.
g.
Faktor sosio ekonomi, yaitu mamumsi
- Sisa plasenta dan selaput
ketuban
- Jalan lahir : robekan perineum,
vagina serviks, famiks dan rahim.
- Penyakit darah: kelainan
pembekuan darah misalnyaa atau hipofibrinogenemia yang sering
dijumpai pada perdarahan yang banyak
- Solusio plasenta
- Kematian janin yang lama dalam
kandungan
- Pre-eklamsi dan eklamsi
- Infeksi, hepatitis dan septik
syok
C. Diagnosis
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH : 1998)
Pada tiap-tiap perdarahan post
partum harus dicari apa penyebabnya secara ringkas membuat diagnosis adalah
seperti bagan dihalaman berikut.
Pada ibu yang bersalin penting
sekali dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin : serta pengawasan tekanan
darah, nadi, pernafasan ibu dan periksa juga kontraksi uterus dan perdarahan
selama 1 jam.
D. Gambaran Klinis
(Human labor and birth : 1996)
Gambaran klinisnya berupa perdarahan
terus-menerus dan keadaan pasien secara berangsur-angsur menjadi semakin jelek.
Denyut nadi menjadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, pasien berubah
pucar dan dingin, dan napasnya menjadi sesak, terengah-engah, berkeringat dan
akhirnya coma serta meninggal dunia. Situasi yang berbahaya adalah kalau denyut
nadi dan tekanan darah hanya memperlihatkan sedikit perubahan untuk beberapa
saat karena adanya mekanisme kompensasi vaskuler. Kemudian fungsi kompensasi
ini tidak bisa dipertahankan lagi, denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan
darah tiba-tiba turun, dan pasien dalam keadaan shock. Uterus dapat terisi
darah dalam jumlah yang cukup banyak sekalipun dari luar hanya terlihat
sedikit. Bahaya perdarahan post partum ada dua, pertama : anemia yang berakibat
perdarahan tersebut memperlemah keadaan pasien, menurunkan daya tahannya dan menjadi
faktor predisposisi terjadinya infekol nifas. Kedua : Jika kehilangan darah ini
tidak dihentikan, akibat akhir tentu saja kematian.
Penatalaksanaan Atonia Uteri
(Sarwono Prawirohardjo : 2005)
- Kenali dan tegakkan diagnosis
kerja atonia uteri.
- Sementara dilakukan pemasangan
infus dan pemberian uterotonika, lakukan kompresi bimanual.
- Pastikan plasentaa lahir
lengkap (bila ada indikasi sebagian plasenta masih tertinggal, lakukan
evakuasi sisa plasenta) dan tak ada laserasi janin lahir.
- Berikan tranfusi darah bila
sangat diperlukan.
- Lakukan uji beku darah (lihat
solusio plasenta) untuk konfirmasi sistem pembekuan darah.
- Bila semua tindakan diatas
telah dilakukan tetetapi masih terjadi perdarahan lakukan tindakan
spesifik (lihat bagian prosedur klinik) sbb :
- Kompresi bimanual
eksternal
Menekan uterus melalui dinding
abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang
melingkupi uterus. Pantau aliraan darah yang keluar, bila perdarahan berkurang,
kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau
dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum berhasil, coba dengan
kompresi bimanual internal.
- Kompresi bimanual internal
Uterus ditekan di antara telapak
tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit
pembuluh darah didalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi).
Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bila perdarahan
berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. Apabila
perdarahan tetap terjadi, cobakan kompresi aorta abdominalis.
- Kompresi aortaa abdominalis
Raba arteri femoralis dengan ujung
jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan kemudian
tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai
kolumna vertebralis, penekanan yang tepat, akan menghentikan atau sangat
mengurangi denyut arteri pemoralis. Lihat hasil kompresi dengan memperhatikan perdarahan
yang terjadi.
Penatalaksanaan Retensio Plasenta
(Sarwono Prawirohardjo:2005)
- Tentukan jenis retensio yang
terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan diambil
- Regangkan tali pusat dan minta
pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, cobakan
traksi terkontrol tali pusat.
- Pasang infus oksitosin 20 unit
dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetesan per menit. Bila perlu kombinasikan
dengan misoprostal 400 mg rektal (sebaiknya TIDAK menggunakan ergometrin
karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta terperangkap
dalam kovum uteri).
- Bila traksi terkontrol gagal
untuk melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati-hati dan
halus (melepaskan plasenta yang melekat erat secara paksa, dapat
menyebabkan perdarahan atau perfarasi).
- Restorasi cairan untuk
mengatasi hipovolumina
- Lakukan tranfusi darah apabila
diperlukan
- Beri antibiotika profilaksis
(ampisilin 2 g IV/oral + metronidozol 1 g sapositona/oral)
- Segera atasi bila terjadi
komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenik.
Sisa Plasenta (Sarwono
Prawirohardjo: 2005)
- Penemua secara dini, hanya
dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah
dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca-persalinan
lanjut, sebagian besar pasien-pasien akan kembali ketempat bersalin dengan
keluhan perdarahan setelah 6-10 hari pulang kerumah dan sub involusi
uterus.
- Berikan antibiotika karena
perdarahan juga merupakan gejala matritis. Antibiotika yang dipilih adalah
ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan dengan 3 x 500 mg oral.
- Dengan dipayungi antibiotikaa
tersebut, lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan
mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui
oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta denga AVM atau dilatasi dan
kuretase.
- Bila kadar Hb < 8 gr%
berikan tranfusi darah, bila kadar Hb ³ 8 gr%, berikan sulfas ferosus 600
mg/hari selama 10 hari.
Penatalaksanaan Ruptura Perineum dan
Robekan Dinding Vagina (Sarwono Prawirohadjo; 2005)
- Lakukan eksplorasi untuk
mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
- Lakukan irigasi pada tempat
luka dan bubuhi larutan antiseptik
- Jepit dengan ujung klem sumber
perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap.
- Lakukan penjahitan luka mulai dari
bagian yang paling distal terhadap operator.
- Khusus pada ruptura perineum
komplit (hingga anus dan sebagian rektum) dilakukan penjahitan lapis dini
dengan bantuan busi pada rektum, sbb :
- Setelah prosedur
aseptik-antiseptik, pasang busi rektum hingga ujung robekan
- Mulai penjahitan dari ujung
robekan dengan penjahitan dan simpul submukosa, menggunakan benang
poliglikonik no. 2/0 (dexon/vicryl) hingga sfongter oni jepit kedua
sfingter oni dengan klem dan jahit dengan benar no. 2/0
- Lanjutkan penjahitan kelapisan
otot perineum dan submukosa dan subkutikuler
- Mukosa vagina dan kuul
perineum dijahit secara submukosal dan subkutikuler.
- Berikan antibiotika
profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidozal 1 g per oral) terapi penuh
antibiotika hanya diberikan apabila luka tampak kotor atau dibubuhi
ramuan tradisional atau terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas.
Penatalaksanaan Robekan Serviks
(Sarwono Prawirohardjo: 2005)
- Robekan serviks sering terjadi
pada sisi lateral karena serviks yang terjulur, akan mengalami robekan
pada posisi spina isciadika tertekan oleh kepala bayi.
- Bila kontraksi uterus baik,
plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lihat
bagian lateral bawah kiri dan kanan dari persia.
- Jepitkan klem ovum pada kedua
sisi porsio yang robek sehingga perdarahan dapat segera dihentikan. Jika
setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan
penjahitan. Jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar
sehingga semua robekan dapat dijahit.
- Setelah tindakan, periksa tanda
vital pasien, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, dan perdarahan
pascaa-tindakan.
- Beri antibiotika profilaksis,
kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi
- Bila terjadi defisit cairan,
lakukan retorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr%, berikan tranfusi darah.
Daftar Pustaka
.
Human Labor and Birth. 1996. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi
Persalinan. Jakarta. Yayasan Essentia Medica.
- Ida Bagus Gde Manuaba. 1998. Ilmu
Kebidanan. Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta.
EGC
- Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH.
1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC
- Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 1999. Modul 5. Pencegahan dan Penanganan Post Partum.
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar